Categories
Kota Opini Sejarah

MELUPAKAN ACEH

Tentara Belanda pada ekspedisi II di Dalam _Kraton_ Sultan Aceh_ Jenderal Van Swieten (kiri di atas meriam) dan Jenderal G.M. Verspijck (Kanan di atas meriam)

Melupakan Aceh adalah fenomena.

 

Masa lampau memang sering menakutkan, khususnya ketika dilihat dengan kacamata masa kini. Bahwa masa lampau itu tak mudah punah dari alam bawah sadar kita, meskipun semua kemegahan masa lampau itu kini (sebenarnya) sudah tidak ada lagi. Mereka-mereka yang memuji kita (sekarang) dapatlah dimaafkan selama mereka tidak tahu apa yang mereka omongkan. Orang-orang Aceh telah kehilangan keperkasaan, kecerdasan, (bahkan) kehormatan. Bendera, adat, bahkan sejarah! Semuanya (sudah) tidak ada.

Apakah kita telah melupakan Aceh yang pernah jaya?

Kini Banda Aceh yang teronggok di sudut Nusantara sekarang dahulu sebuah kota cosmopolitan, menjadi tempat bercampurnya berbagai ras yang menghuni dunia. Kini mendengar kota “Kosmopolitan” yang terbayang adalah Hongkong, New York, Singapura, Tokyo, London, Paris, (atau) Jakarta. Sama sekali bukan Samarkand, Bukhara, Damaskus, Merv, Eshafan, Baghdad, (atau) Banda Aceh. Zaman berganti, kota-kota yang dulunya pusat peradaban yang menjadi tempat berkumpulnya segala bangsa, kini terlupakan, terkurung dalam garis batas-batas Negara baru dan tenggelam dalam warna-warni peta dunia.

Hari ini, Aceh menyiratkan kepedihan, menghadapi kekuasaan yang bertaut dengan pengetahuan, menghadapi senjata, harta dan kata-kata yang begitu kuat dan menaklukkan, ia berangkat untuk membebaskan, (pada) akhirnya ia (sekarang) terlupakan.

Senja semakin larut, kabut menggantung di belakang mereka di atas pepohonan di bawah dan melayang di atas tepi-tepi sungai keruh oleh hujan semalam.

Referensi:
  1. Sistem perpajakan kerajaan Aceh. Sumber: tengkuputeh.com
  2. Semerbak aroma angsana di Banda Aceh. Sumber: tengkuputeh.com
  3. Aceh yang dilupakan. Sumber: tengkuputeh.com