Categories
Kota Sejarah

BANDA ACEH ABAD KE-17 MASEHI

Peta Kerajaan Aceh tahun 1665 Mesehi, koleksi Nationaal Archief, Pelukis Johannes Vingboons.

Kondisi Banda Aceh abad ke-17 masehi. Pedagang Utsmaniah berteriak ke galangan kapal, saat pedagang Aceh bergegas bolak-balik menyusuri pelabuhan, menjual barang mereka. Sejumlah kapal dagang dari Perusahaan Hindia Belanda duduk di dermaga, dipenuhi dengan rempah-rempah mahal dan eksotis untuk dibawa mengelilingi Eropa. Ini adalah Kesultanan Aceh, yang dulunya adalah salah satu kerajaan paling kuat di Asia Tenggara.

Ini adalah sebuah kota yang menjanjikan kenangan. Banda Aceh sungguh indah, jalan lurus dengan barisan rapi gedung-gedung mungil dan pepohonan angsana yang rindang. Aromanya khas dan kuat selalu memberikan kesan kepada mereka yang datang dan pergi.

Angin menderai aroma angsana terasa hari menjelang maghrib. Ada beberapa dahan memberi celah sang senja memerah menyeruak, dihajar udara yang kian dingin. Begitulah hidup sudah beberapa waktu berjalan.

Ratusan tahun yang lalu, Nusantara belum menjadi satu negara tunggal, Indonesia masih belum berdiri, namun saat itu merupakan wilayah perang dari banyak kerajaan yang terpisah-pisah. Kekuatan kolonial besar Eropa melihat kerajaan-kerajaan ini sebagai sebuah kesempatan untuk memperluas kekayaan mereka yang terus meningkat, dan banyak di antara mereka menciptakan hubungan perdagangan dengan kerajaan-kerajaan. Kesultanan Aceh terletak di posisi yang strategis, di ujung barat Indonesia. Banyak perdagangan di Asia Tenggara masa lampau melewati Aceh, dan pedagang menyebarkan budaya mereka ke Aceh lebih dulu. Kekaisaran Turki Ustmaniyah memiliki hubungan perdagangan dan pertahanan yang kuat dengan Aceh, dan menyebarkan ajaran Islam ke Aceh, yang akhirnya menyebar ke wilayah lain di Indonesia.

Haruskah Banda Aceh yang sejak tahun 1200 Masehi sudah menjadi pusat perdagangan dunia menjadi teronggok di sudut Nusantara. Bahwa Bandar Aceh Darussalam pernah menjadi sebuah kota “Kosmopolitan” baginya adalah tempat bercampurnya ras yang menghuni dunia, kita kini, mendengar kata “Kosmolitan” yang terbayang adalah Hongkong, New York, Singgapura, Tokyo, London, Paris, sama sekali bukan Samarkand, Bukhara, Damascus, Merv, Esfahan, Baghdad, atau Banda Aceh. Zaman berganti, kota-kota yang dulunya adalah pusat peradaban tempat berkumpulnya segala bangsa, kini terlupakan, terkurung di dalam garis batas-batas baru yang tenggelam dalam warna-warni peta dunia.

Referensi:
  1. Eksploitasi sumber daya alam bagus untuk Aceh? Sumber: tengkuputeh.com
  2. Semerbak aroma angsana di Banda Aceh. Sumber: tengkuputeh.com
Categories
Kota Opini Sejarah

MELUPAKAN ACEH

Tentara Belanda pada ekspedisi II di Dalam _Kraton_ Sultan Aceh_ Jenderal Van Swieten (kiri di atas meriam) dan Jenderal G.M. Verspijck (Kanan di atas meriam)

Melupakan Aceh adalah fenomena.

 

Masa lampau memang sering menakutkan, khususnya ketika dilihat dengan kacamata masa kini. Bahwa masa lampau itu tak mudah punah dari alam bawah sadar kita, meskipun semua kemegahan masa lampau itu kini (sebenarnya) sudah tidak ada lagi. Mereka-mereka yang memuji kita (sekarang) dapatlah dimaafkan selama mereka tidak tahu apa yang mereka omongkan. Orang-orang Aceh telah kehilangan keperkasaan, kecerdasan, (bahkan) kehormatan. Bendera, adat, bahkan sejarah! Semuanya (sudah) tidak ada.

Apakah kita telah melupakan Aceh yang pernah jaya?

Kini Banda Aceh yang teronggok di sudut Nusantara sekarang dahulu sebuah kota cosmopolitan, menjadi tempat bercampurnya berbagai ras yang menghuni dunia. Kini mendengar kota “Kosmopolitan” yang terbayang adalah Hongkong, New York, Singapura, Tokyo, London, Paris, (atau) Jakarta. Sama sekali bukan Samarkand, Bukhara, Damaskus, Merv, Eshafan, Baghdad, (atau) Banda Aceh. Zaman berganti, kota-kota yang dulunya pusat peradaban yang menjadi tempat berkumpulnya segala bangsa, kini terlupakan, terkurung dalam garis batas-batas Negara baru dan tenggelam dalam warna-warni peta dunia.

Hari ini, Aceh menyiratkan kepedihan, menghadapi kekuasaan yang bertaut dengan pengetahuan, menghadapi senjata, harta dan kata-kata yang begitu kuat dan menaklukkan, ia berangkat untuk membebaskan, (pada) akhirnya ia (sekarang) terlupakan.

Senja semakin larut, kabut menggantung di belakang mereka di atas pepohonan di bawah dan melayang di atas tepi-tepi sungai keruh oleh hujan semalam.

Referensi:
  1. Sistem perpajakan kerajaan Aceh. Sumber: tengkuputeh.com
  2. Semerbak aroma angsana di Banda Aceh. Sumber: tengkuputeh.com
  3. Aceh yang dilupakan. Sumber: tengkuputeh.com
Categories
Kota

DILARANG PACARAN

 

Dilarang Pacaran
Dilarang Pacaran

Amaran “Dilarang Pacaran” oleh Pemerintah Kota Banda Aceh. Melanggar Qanun Hukum Jinayah No.6/2014

https://tengkuputeh.files.wordpress.com/2022/02/qanun-aceh-nomor-6-tahun-2014-tentang-hukum-jinayat.pdf

Categories
Sejarah

BANDA ACEH DULU KALA

Banda Aceh dahulu kala memerankan peranan penting dalam penyebaran islam ke seluruh Nusantara/Indonesia. Oleh karena itu, kota ini juga dikenal sebagai Serambi Mekkah.

Ratusan tahun yang lalu, Nusantara belum menjadi satu negara tunggal, Indonesia masih belum berdiri, namun saat itu merupakan wilayah perang dari banyak kerajaan yang terpisah-pisah. Kekuatan kolonial besar Eropa melihat kerajaan-kerajaan ini sebagai sebuah kesempatan untuk memperluas kekayaan mereka yang terus meningkat, dan banyak di antara mereka menciptakan hubungan perdagangan dengan kerajaan-kerajaan. Kesultanan Aceh terletak di posisi yang strategis, di ujung barat Indonesia. Banyak perdagangan di Asia Tenggara masa lampau melewati Aceh, dan pedagang menyebarkan budaya mereka ke Aceh lebih dulu. Kekaisaran Turki Ustmaniyah memiliki hubungan perdagangan dan pertahanan yang kuat dengan Aceh, dan menyebarkan ajaran Islam ke Aceh, yang akhirnya menyebar ke wilayah lain di Indonesia.

Mahasiswa Universitas Syiah Kuala turun dari Robur menuju Ruang Kuliah Umum di tahun 1975. Foto diambil oleh Asian Archeology and Culture History, Boston University

sumber: tengkuputeh.com

Angin menderai aroma angsana terasa hari menjelang maghrib. Ada beberapa dahan memberi celah sang senja memerah menyeruak, dihajar udara yang kian dingin. Begitulah hidup sudah beberapa waktu berjalan.

Banda Aceh dahulu kala, kondisi mahasiswa dan mahasiswi Universitas Syiah Kuala turun dari robur (angkutan umum) menuju ruang kuliah umum di tahun 1975, Foto diambil oleh Asian Archeology and Culture History Boston University.

Ini adalah sebuah kota yang menjanjikan kenangan. Banda Aceh sungguh indah, jalan lurus dengan barisan rapi gedung-gedung mungil dan pepohonan angsana yang rindang. Aromanya khas dan kuat selalu memberikan kesan kepada mereka yang datang dan pergi.

Peta Kerajaan Aceh tahun 1665 Mesehi, koleksi Nationaal Archief, Pelukis Johannes Vingboons.

Pedagang Utsmaniah berteriak ke galangan kapal, saat pedagang Aceh bergegas bolak-balik menyusuri pelabuhan, menjual barang mereka. Sejumlah kapal dagang dari Perusahaan Hindia Belanda duduk di dermaga, dipenuhi dengan rempah-rempah mahal dan eksotis untuk dibawa mengelilingi Eropa. Ini adalah Kesultanan Aceh, yang dulunya adalah salah satu kerajaan paling kuat di Asia Tenggara.

Banda Aceh Dahulu Kala

Banda Aceh yang teronggok di sudut Nusantara sekarang dahulu sebuah kota cosmopolitan, menjadi tempat bercampurnya berbagai ras yang menghuni dunia. Kini mendengar kota “Kosmopolitan” yang terbayang adalah Hongkong, New York, Singapura, Tokyo, London, Paris, (atau) Jakarta. Sama sekali bukan Samarkand, Bukhara, Damaskus, Merv, Eshafan, Baghdad, (atau) Banda Aceh. Zaman berganti, kota-kota yang dulunya pusat peradaban yang menjadi tempat berkumpulnya segala bangsa, kini terlupakan, terkurung dalam garis batas-batas Negara baru dan tenggelam dalam warna-warni peta dunia.

Oh, Banda Aceh dahulu kala

Categories
Uncategorized

Hello world!

Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start writing!